Natal 2019: “Christmas in Vanity”

Natal 2019: “Christmas in Vanity”

“Apa yang dicari orang? Uang!

Apa yang dicari orang, siang, malam, pagi, petang? 

Uang, uang, uang!! 

BUKAN Tuhan Yesus!!!

Ingatkah saudara akan lagu yang sering kita nyanyikan ketika di sekolah minggu dulu?Mungkin waktu masih kecil, kita tertawa-tawa ketika menyanyikan lagu tersebut karena belum mengerti apa artinya. Bukan hanya uang saja yang kita cari, namun juga kekayaan, harta, jabatan, pangkat, atau juga popularitas. Bagi generasi muda, memiliki followers dan like yang banyak di media sosial juga sudah menjadi sesuatu yang esensial. Ya, inilah perkara-perkara yang selalu dikejar oleh banyak orang yang ada di muka bumi ini.

Ketika seseorang memiliki semuanya itu, ia berpikir hidupnya sudah lengkap dan tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Dunia selalu mengukur dan menilai keberhasilan hidup seseorang dari apa yang dimiliki atau yang tampak oleh mata jasmaniah, padahal semuanya itu hanya bersifat sementara dan sampai kapan pun takkan pernah memberikan kepuasan, sebab  “…mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar.”  (Pkh 1: 8).

Tema Natal kita kali ini adalah “Natal dalam Kesia-siaan” yang terinspirasi dari kitab Pengkhotbah.  Pengkhotbah yang selalu mengingatkan kita bahwa semuanya itu, hal-hal fana yang kita kejar adalah sia-sia.  

Rangkaian acara Natal 2019 diawali dengan penayangan video pendahuluan pada minggu Advent I dan Advent II. Dalam video ini, diceritakan ada seorang pemuda yang sangat berambisi ketika studi di Jerman dan bekerja keras demi kebahagiaan keluarganya, namun dia sendiri belum memahami apa arti dari segala sesuatu yang dia kejar. Dia merasa hidupnya hampa.  (Video Natal tersebut dapat kembali dilihat di: http://feg.immanuel-berlin.de/events/kebaktian-natal/)

Rangkaian video ini pun dilanjutkan dengan khotbah yang dibawakan oleh Pdt. John Kusuma yang menjabarkan tentang kitab Pengkhotbah dan arti kelahiran Yesus Kristus. Kita diajak mengerti benang merahnya dengan melihat keadaan dunia saat ini, juga relevansinya dalam kehidupan sehari-hari dari sisi pelajar, profesional, ibu rumah tangga, dan yang lainnya. Pada akhirnya kita harus kembali memandang salib Kristus, yang mungkin selama ini tersembunyi atau tertutup oleh ke-ego-an kita masing-masing ketika sibuk mencari hal-hal yang fana di dunia ini. 

Di penghujung kebaktian, pemandu acara dan para pemandu pujian, mencoba menanggalkan dekorasi yang melambangkan ego kita pada saat ini, seperti: harta, jabatan, popularitas. Namun hanya sebagian. Mengapa? Karena kita masih terikat dengan hal-hal duniawi. Inilah yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita pribadi untuk menanggalkan hal-hal tersebut dengan terus memandang salib Kristus. 

Makna Natal juga tidak hanya disampaikan kepada orang dewasa, namun juga kepada anak-anak. Tema Natal Sekolah Minggu kali ini adalah “Das Beste für Jesus” (Yang terbaik bagi Tuhan). 

Bersamaan dengan kebaktian Natal dewasa, acara Natal bagi anak-anak pun diselenggarakan di ruangan Sekolah Minggu. 

Pada Natal kali ini, Teenies pun turut andil dalam menyampaikan makna Natal yang dikemas dalam pertunjukan drama yang berjudul “Das größte Geschenk” (Hadiah yang Terbesar).

Penampilan drama dari Grup Teenies

Dalam drama ini diceritakan bahwa beberapa hal seperti televisi, buku, sampanye, dan boneka; yang biasanya dijadikan kado Natal, berlomba-lomba untuk menjadi hadiah yang terbaik bagi pembelinya. Namun, ternyata masih ada sebuah kotak hadiah lagi yang ukurannya paling kecil dari kado-kado lainnya, yang ternyata berisi sebuah salib dan sebuah palungan mainan. Lalu, mengapa salib dan palungan mainan tersebut ditempatkan di dalam kotak yang sama? Apa maksud dari kado tersebut? 

Dua remaja yang mendiskusikan apa arti Salib dan Palungan yang berada di dalam kotak kado yang sama

Melalui pertunjukan drama ini, anak-anak diingatkan kembali akan apa arti Natal sebenarnya; bahwa Tuhan Yesus lahir ke dunia ini untuk menyelamatkan kita yang berdosa dari maut dengan rela mati di kayu salib bagi umat-Nya. Itulah sebabnya mengapa salib dan palungan mainan tersebut diletakkan di dalam kotak kado yang sama. 
Acara Natal anak-anak pun ditutup dengan sebuah aktivitas yaitu menghias kotak kado. Kiranya melalui acara ini, mereka dapat diingatkan bahwa Natal itu tidak selalu identik dengan mendapatkan hadiah yang berisi mainan atau hal-hal lain yang mereka suka. Namun lebih daripada itu, hadiah terbesar yang Tuhan berikan bagi mereka dan juga kita semua adalah dengan lahir di sebuah palungan untuk menyelamatkan kita dari maut dengan rela mati di kayu salib. Lalu, apa yang dapat kita berikan bagi Dia? —-

Klik link ini untuk kembali ke halaman utama Warta 2020: Part 1